Kamis, 13 Februari 2014

MAKALAH CIRC (COOPERATIVE INTEGRATED READING ADN COMPOSITION) LENGKAP













 
                               
KATA PENGATAR
Puji syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan junjungan besar Nabi Muhammad SAW, karena berkat berkah dan hidayah-Nya kita dapat menyelesaikan makalah inovasi Pembelajaran Matematika tentang “Model Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC)” ini dengan lancar tanpa hambatan suatu apapun.
Kami menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu kritik dan saran yang ada relevansinya dengan makalah ini sangat kami harapkan. Kritik dan saran sekecil apapun akan kami perhatikan dan pertimbangkan guna penyempurnaan makalah ini selanjutnya.
Pada kesempatan kali ini kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung dan membantu dalam menyelesaikan makalah ini.

Lamongan, 22 Oktober 2013

            Penyusun








DAFTAR ISI
v  Halaman Judul
v  Kata Pengantar…………………………………………………………….     i
v  Daftar isi…………………………………………………………………...    ii
v  BAB I ( PENDAHULUAN )
Ø  A.  Latar Belakang…………………………………………………….    1
Ø  B.  Rumusan Masalah…………………………………………………    2
Ø  C.  Tujuan Pembahasan……………………………………………….    3
v  BAB II ( PEMBAHASAN )
Ø  A.  Pengertian Model Pembelajaran Cooperative Integrated Reading
      and Composition………………………………………………….     4           
Ø  B.  Komponen-komponen dalam pembelajaran CIRT .………………    6
Ø  C.  Kegiatan pokok pembelajaran…………………………………….    7
Ø  D.  Penerapan Model Pembelajaran CIRT.…………………………..     7
Ø  E.  Manfaat Model Pembelajaran CIRT……………………………...     9
Ø  F.   Evaluasi Materi yang  cocok  untuk SMP/SMA  dengan  Model  
      CIRT………………..…………………………………………….     9
v  BAB III ( PENUTUP )
Ø  A. Kesimpulan ………………………………………………………    10
Ø  B. Saran ……………………………………………………………...   10
v  Daftar Pustaka………………………………………………………….....    11
v  Lampiran-lampiran






BAB I
PENDAHULUAN
A.      LATAR BELAKANG
Tujuan pendidikan pada hakekatnya adalah suatu proses terus menerus manusia untuk menanggulangi masalah-masalah yang dihadapi sepanjang hayat karena itu siswa harus benar-benar dilatih dan dibiasakan berfikir secara mandiri. Metematika merupakan pengetahuan yang mempunyai peran sangat besar baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam pengembangan ilmu pengetahuan lainnya. Dengan adanya pendidikan matematika di sekolah dapat mempersiapkan anak didik agar menggunakan matematika secara fungsional dalam kehidupan sehari-hari dan di dalam menghadapi ilmu pengetahuan lainnya.
Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang penting  diajarkan pada pendidikan dasar atau pendidikan menengah. Dalam pedoman penyusunan kurikulum matematika pada pendidikan dasar, antara lain agar siswa memahami konsep matematika secara luwes, akurat, efisien, dan tepat serta sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan yaitu memiliki rasa ingin tahu atau kritis, perhatian dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri alam pemecahan masalah.
Adapun untuk pelajaran matematika, penilaiaan diarahkan untuk mengukur kemampuan, diantaranya:
1.      Pemahaman konsep, siswa mampu mendifinsikan konsep, mengidentifikasi dan memberi contoh atau bukan contoh dari sikap.
2.      Prosedur, siswa mampu mengenali prosedur atau proses penghitungan yang benar dan tidak benar.
3.      Komunikasi, siswa mampu menyatakan dan menafsirkan gagasan matematika secara lisan, tertulis dan mampu mendemontrasikan.
4.      Penalaran, siswa mampu memberikan alasan induktif dan deduktif.
5.      Pemecahan masalah, siswa mampu memahmi masalah, memilih stategi penyelesaian. Indikasi masalah dalam matematika adalah agar siswa mampu memecahkan masalah yang dihadapai dalam kehidupan sehari-hari. Dengan mempelajari matematika siswa selalu dihadapkan pada masalah matematika yang tersetruktur, sistematis, dan logis yang membiasakan siswa untuk mangatasi masalah yang timbul secara mandiri dalam kehidupannya tanpa harus meminta bantuan kepada orang lain.
Kemampuan pemecahan masalah matematika pada siswa dapat diketahui melalui soal-soal yang berbentuk uraian, karena soal yang berbentuk uraian kita dapat melihat langkah-langkah yang dilakukan siswa dalam menyelesaikan permasalahan, sehingga pemahaman siswa akan memecahkan masalah dapat diukur. Bentuk lain dalam pemecahan masalah dalam pembelajaran ini adalah soal cerita. Berdasarkan buku-buku penunjang pembelajaran matematika yang mengacu pada kurikulum, banyak dijumpai soal-soal cerita hampir pada setiap materi pokok. Karena soal cerita merupakan soal yang dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari dan lebih ditekankan pada ketajaman intelektual anak sesuai dengan kenyataan yang mereka hadapai. Banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami setiap kalimat dalam soal cerita, misalkan apa yang diketahui dan yang ditanyakan, kurang bisa menghubungkan secara fungsional unsur-unsur yang diketahui untuk menyelesaikan masalah, serta memisalkan unsur sesuai dengan aturan yang berlaku.
B.   RUMUSAN MASALAH
 Rumusan masalah yang akan di bahas dalam makalah ini yaitu:
1.    Apa yang di maksud dengan model pembelajaran kooperatif tipe CIRC?
2.    Bagaimana langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe CIRC?
3.    Apa saja kekurangan dan kelebihan dari model pembelajaran kooperatif tipe CIRC?
4.    Apa saja manfaat dari metode model pembelajaran kooperatif tipe CIRC?
5.    Apa materi yang cocok untuk di terapkan dengan metode model pembelajaran kooperatif tipe CIRC?
C.   TUJUAN PEMBELAJARAN
 Tujuan dari penyusunan makalah ini yaitu:
1.         Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan pembelajaran kooperatif tipe CIRC.
2.         Untuk mengetahui bagaimana langkah-langkah dalam menerapkan metode pembelajaran koperatif tipe CIRC.
3.         Untuk mengetahui apa saja kekurangan dan kelebihan metode pembelajaran koperatif tipe CIRC.
4.         Untuk mengetahui apa saja manfaat metode pembelajaran kooperatif tipe CIRC.
5.         Untuk mengetahui materi yang cocok menggunakan metode pembelajaran koperatif tipe CIRC.











BAB II
PEMBAHASAN

A.      PENGERTIAN MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE INTEGRATED READING AND COMPOSITION
Menurut Etin Solihatin dan Raharjo, Cooperative Learning mengandung pengertian sebagai suatu sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu diantara sesama dalam struktur kerja sama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri dari dua orang atau lebih dimana keberhasilan kerja sangat dipengaruhi oleh keterlibatan dari setiap anggota kelompok itu sendiri.  
Model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang menuliskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman pembelajaran untuk mencapai tujuan belajar. Serta berfungsi sebagai pedoman bagi para perencana pembelajaran dan bagi para pendidik dalam merencanakan dan melaksanankan aktifitas belajar mengajar.
Roger dan David Johnson dalam Anita Lie menyatakan bahwa tidak semua kerja kelompok dianggap cooperative learning. Untuk mencapai hasil yang maksimal ada lima unsur model pembelajaran gotongroyong harus ditetapkan. Kelima unsur tersebut antara lain:
1.    Saling ketergantungan positif
Untuk menciptakan kerja kelompok yang efektif, pengajar perlu menyusun tugas sedemikian rupa sehingga setiap anggota kelompok harus menyelesaikan tugasnya sendiri agar yang lain bisa mencapai tujuan mereka, dengan cara ini mau tidak mau setiap anggota merasa bertanggung jawab untuk menyelesaikan tugasnya agar yang lain bisa berhasil.
  1. Tanggung jawab perseorangan
                        Jika tugas dan pola penilaian dibuat menurut prosedur model pembelajaran koparatif setiap siswa akan merasa bertanggung jawab untuk melakukan yang terbaik. Kunci keberhasilan model pembelajaran kerja kelompok adalah persiapan guru dalam menyusun tugasnya.
3.    Tatap muka
Setiap kelompok harus diberikan kesempatan untuk bertemu muka dan berdiskusi. Kegiatan interaksi ini akan memberikan para pembelajar untuk membentuk sinergi yang menguntungkan semua anggota.
4.    Komunikasi antar anggota
Keterampilan berkomunikasi dalam kelompok ini juga merupakan proses panjang. Pembelajaran tidak bisa diharapkan langsung menjadi komunikator yang handal dalam waktu sekejap. Proses ini sangat bermanfaat dan perlu ditempuh untuk memperkaya pengalaman belajar dan pembinaan perkembangan mental dan emosional para siswa.
5.    Evaluasi proses kelompok
Guru perlu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka agar selanjutnya bisa bekerja sama dan lebih efektif. Waktu evaluasi tidak perlu diadakan setiap kali ada kerja kelompok, tetapi bisa diadakan selang beberapa kali siswa terlibat dalam pembelajaran kooperatif.
Pembelajaran kooperatif mencakup kelompok kecil siswa yang bekerja sebagai sebuah tim untuk menyelesaikan suatu masalah.
Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai tiga tujuan pembelajaran yang penting yaitu:
a)    Hasil belajar akademik
Pembelajaran kooperatif bertujuan untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik. Banyak ahli berpendapat bahwa model ini unggul dalam membantu siswa memahami konsep yang sulit.
b)    Penerimaan terhadap perbedaan individu
Efek penting ini adalah penerimaan yang luas terhadap orang yang berbeda menurut ras, budaya, kelas sosial, kemampuan maupun ketidakmampuan.
c)    Pengembangan ketrampilan sosial
                        Model pembelajaran kooperatif bertujuan untuk mengajarkan kepa-da siswa keterampilan kerjasama dan kolaborasi.
Dalam model pembelajaran CIRC, siswa ditempatkan dalam kelompok-kelompok kecil yang heterogen  yang terdiri atas 4 atau 5 siswa. Dalam kelompok ini tidak dibedakan atas jenis kelamin, atau tingkat kecerdasan siswa. Jadi dalam kelompok ini ada siswa yang pandai, sedang atau lemah, dan masing-masing siswa sebaiknya merasa cocok satu sama lain. Dengan pembelajaran kelompok, diharapkan para siswa dapat meningkatkan pikiran kritisnya, kreatif, dan menumbuhkan rasa sosial yang tinggi.
Sebelum di bentuk kelompok, siswa diajarkan bagaimana bekerjasama dengan suatu kelompok. Siswa diajari menjadi pendengar yang baik, dapat memberikan penjelasan kepada teman sekelompok, berdiskusi, mendorong teman lain untuk bekerja sama menghargai pendapat orang lain dan sebagainya. Salah satu ciri pembelajaran kooperatif adalah kemampuan siswa untuk bekerja sama dalam kelompok kecil yang heterogen. Siswa yang pandai dapat mengembangkan kemampuan dan ketrampilannya, sedangkan siswa yang lemah akan terbantu dalam memahami permasalahan yang diselesaikan dalam kelompok tersebut.
B.     KOMPONEN – KOMPONEN DALAM PEMBELAJARAN CIRC
Model pembelajaran CIRC menurut Slavin dalam Suyitno memiliki delapan komponen, delapan komponen tersebut antara lain:
1)             Teams yaitu pembentukan kelompok heterogen yang terdiri atas 4 atau 5 siswa.
2)             Plcement tes misalnya diperoleh dari rata-rata nilai ulangan harian sebelumnya atau berdasarkan nilai rapor agar guru mengetahui kelebihan dan kekurangan siswa pada bidang tertentu.
3)    Student creative melaksanakan tugas dalam suatu kelompok dengan menciptakan situasi dimana keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya.
4)    Team study yaitu tahapan tindakan belajar yang harus dilaksanakan oleh kelompok dan guru memberikan bantuan kepada kelompok yang membutuhkannya.
5)    Team scorer and team recognition yaitu memberikan skor terhadap hasil kerja kelompok dan memberikan kriteria penghargaan terhadap kelompok yang berhasil secara cemerlang dan kelompok yang di pandang kurang berhasil dalam menyelesaikan tugas.
6)    Teaching group memberikan materi secara singkat dari guru menjelang  pemberian tugas kelompok.
7)    Facts test pelaksanaan test ulangan berdasarkan fakta yang diperoleh siswa.
8)    Whole-class units yaitu pemberian rangkuman materi oleh guru diakhir waktu pembelajaran dengan strategi pemecahan masalah.
C.      KEGIATAN POKOK PEMBELAJARAN CIRC
Kegiatan pokok dalam CIRC untuk menyelesaikan soal pemecahan masalah meliputi rangkain kegiatan bersama yang spesifik, yaitu:
1.         Salah satu anggota atau beberapa kelompok membaca soal.
2.         Membuat prediksi atau menafsirkan isi soal pemecahan masalah, termasuk penulisan apa yang diketahui, apa yang ditanyakan.
3.         Saling membuat rencana penyelesaian soal pemecahan masalah.
4.         Menuliskan penyelesaian soal pemecahan masalah secara urut.
5.         Saling merevisi dan mengedit pekerjaannya.
D.      PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN CIRC
Penerapan model pembelajaran CIRC untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah dapat ditempuh dengan:
1)          Guru menerangkan suatu pokok bahasan matematika kepada siswa yang berisi  materi yang akan diajarkan pada setiap pertemuan.
2)          Guru memberikan latihan soal.
3)          Guru siap melatih siswa untuk meningkatkan keterampilan siswanya  dalam menyelesaikan soal pemecahan masalah melalui penerapan model
CIRC.
4)          Guru membentuk kelompok-kelompok belajar siswa yang heterogen.
5)          Guru mempersiapkan soal pemecahan masalah dalam bentuk kartu masalah dan membagikannya pada setiap kelompok.
6)          Setiap kelompok bekerja berdasarkan kegiatan pokok CIRC, sedangkan guru mengawasinya.
7)          Ketua kelompok melaporkan keberhasilan atau hambatan kelompoknya.
8)          Ketua kelompok harus dapat menetapkan bahwa setiap anggota telah memahami, dan dapat mengerjakan soal pemecahan masalah.
9)          Guru bertindak sebagai fasilitator.
10)    Guru memberikan tugas/PR secara individual.
11)    Guru membubarkan kelompok dan siswa kembali ke tempat duduknya.
12)    Guru mengulang secara klasikal tentang strategi penyelesaian soal  pemecahan masalah.
13)    Guru memberikan kuis.
Dalam system pembelajaran CIRC terdapat kelebihan dan kekurangan, berikut paparan lebih lanjut:
a)         Kelebihan model pembelajaran CIRC:
1.      Siswa dapat memberikan tanggapannya secara bebas.
2.      Dilatih untuk dapat bekerjasama dan menghargai pendapat orang lain.
3.      Dominasi guru dalam pembelajaran berkurang.
4.      Para siswa dapat memahami soal dan mengecek pekerjaannya.
5.      Membantu siswa yang lemah.
6.      Meningkatkan hasil belajar khususnya dalam menyelesaikan soal yang berbentuk pemecahan masalah. 
b)          Kekurangan model pembelajaran CIRC:
1.      Pada saat presentasi hanya siswa aktif yang tampil.
2.      Saat mengerjakan laporan di dominasi oleh Siswa yang lebih pandai.
3.      Persiapan yang perlu dilakukan yang akan menggunakan model pembelajaran koperatif cukup rumit.
4.      Pengelolaan kelas dan pengorganisasian peserta didik lebih sulit.
E.       MANFAAT MODEL PEMBELAJARAN CIRC
Berikut merupakan manfaat model pembelajaran CIRC dalam proses pembelajaran disekolah:
1.           Dengan menggunakan model pembelajaran CIRC, siswa mendapat pengalaman baru dalam proses pembelajaran, selain itu model pembelajaran CIRC juga mengasah daya pikir siswa karena siswa akan dituntut lebih aktif dan selain itu juga dapat menghemat waktu.
2.           Dengan menggunakan model pembelajaran CIRC, guru dapat dengan mudah menyampaikan materi pelajaran, selain itu guru juga lebih kreatif dalam penyampaian materi serta dalam memotivasi peserta didik.
3.           Dengan menggunakan model pembelajaran CIRC, sekolah akan lebih bermutu karena peningkatan keberhasilan dari hasil belajar siswa.
F.     EVALUASI MATERI YANG COCOK UNTUK SMP/SMA DENGAN METODE CIRC
Beberapa materi matematika yang cocok di gunakan model CIRC adalah pemfaktoran bentuk aljabar, menyelesaikan bilangan (bulat, pecahan,  dll). Segi empat (persegi panjang, jajar genjang, persegi, belah ketupat, dan layang-layang).
Dalam metode ini, siswa yang mendapat peringkat dalam kelas bukan berarti dianggap sebagai tombak paling utama, namun semua anggota berpengaruh. Akan tetapi dalam CIRC ini, seseorang yang mempunyai bobot lebih di bagi secara merata dalam setiap kelompok. Agar keseimbangan dalam pengertian materinya dapat diterima dengan sama.




BAB III
PENUTUP
A.      KESIMPULAN
Berdasarkan uraian hasil penelitian diatas, dapat disimpulkan bahwa:
1)          Melalui Cooperative learning tipe CIRC dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam menyelesaikan soal-soal cerita.
2)          Melalui Cooperative learning tipe CIRC dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam menyelesaikan soal-soal cerita.
B.       SARAN
Beberapa saran yang diberikan oleh seorang guru adalah :
1)          Guru matematika harus dapat mengemas proses pembelajaran yang menyenangkan namun tetap menantang.
2)          Guru harus kreatif, inovatif, dan selalu meningkatkan profesionalisnya.
3)          Salah satu proses pembelajaran dalam rangka mengoptimalkan hasil belajar matematika dan meningkatkan ketrampilan siswa yaitu dengan menerapkan tipe CIRC dalam pembelajaran.








DAFTAR PUSTAKA
Anderson, CA and Jeaning, DL.1990,” When Experiences of failure Promote Expectation of Succes: the Impact of attributing failure to ineffective Strategies”.Journal of personality, vol.48,393-407. 
Abdurrahman As’ari. 2005. “Pemecahan Masalah Matematika-pembelajaran dan Asesmennya”. Makalah disajikan dalam Seminar Pendidikan di SBI Madania Bogor. 
Amin Suyitno dan Isnaeni Rosyida.2002. “Pembelajaran RME ( Realistic Mathematies Education ) sebagai langkah inofasi pendidikan Matematika dan Implementasinya”.
Laporan Pembelajaran Dosen Muda. Semarang: Universitas Negeri Semarang.
                                     









RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)

Nama Sekolah         : SMP NEGERI 1 KARANGGENENG
Mata Pelajaran        : Matematika
Kelas / Semester      : VIII / Ganjil
Materi Pokok           : Faktorisasi Suku Aljabar
Waktu                      : 1 x 40 menit

I.          Standar Kompetensi
·         Memahami bentuk aljabar, relasi, fungsi, dan persamaan garis lurus.
 II.       Kompetensi Dasar
·         Menguraikan bentuk aljabar ke dalam faktor-faktornya.
 III.      Indikator
·         Menguraikan bentuk aljabar ke dalam faktor-faktornya (memfaktorkan bentuk aljabar).
 IV.      Tujuan Pembelajaran
·         Peserta didik dapat menguraikan bentuk aljabar ke dalam faktor-faktornya (memfaktorkan bentuk aljabar).
·         Karakter siswa yang diharapkan :        
Ø  Disiplin ( Discipline )
Ø  Rasa hormat dan perhatian ( respect)
Ø  Tekun ( diligence )
Ø  Tanggung jawab ( responsibility)
V.        Materi Ajar
·         Menentukan faktor-faktor suku aljabar.
 VI.      Metode Pembelajaran
·         Ceramah
·          tanya jawab
·          Diskusi
·          pemberian tugas.
VII.     Langkah-langkah Kegiatan
No
Kegiatan
Waktu
1.
Pendahuluan:
1.      Guru mengucapkan salam.
2.      Guru memimpin do’a.
3.      Guru menyampaikan apersepsi (tujuan pembelajaran), memotivasi peserta didik dengan memberi penjelasan tentang pentingnya mempelajari materi ini.
3 menit
2.
Kegiatan Inti:
·         Eksplorasi
Dalam kegiatan eksplorasi, guru:
1.        Peserta didik diberikan stimulus berupa pemberian materi oleh guru mengenai cara menguraikan bentuk aljabar ke dalam faktor-faktornya (memfaktorkan bentuk aljabar) (Bahan: buku paket, yaitu buku Matematika  Kelas VIII Semester 1, mengenai menentukan faktor-faktor suku aljabar), kemudian antara peserta didik dan guru mendiskusikan materi tersebut.
2.        Peserta didik diberi latihan soal dan mengkomunikasikan secara lisan atau mempresentasikan mengenai cara menguraikan bentuk aljabar ke dalam faktor-faktornya (memfaktorkan bentuk aljabar).       
3.        Peserta didik dan guru secara bersama-sama membahas contoh dalam buku paket pada   mengenai cara memfaktorkan bentuk aljabar yang mempunyai FPB, mengenai cara memfaktorkan bentuk aljabar selisih kuadrat, mengenai cara memfaktorkan bentuk  dan mengenai cara memfaktorkan bentuk, jika, dan mengenai cara memfaktorkan bentuk  jika .
4.        Peserta didik dilatih untuk meningkatkan keterampilan siswanya dalam menyelesaikan soal pemecahan masalah melalui penerapan model CIRC.
5.        Peserta didik dibentuk kelompok belajar yang heterogen.
6.        Guru mempersiapkan soal pemecahan masalah dalam bentuk kartu masalah dan membagikannya pada setiap kelompok.
7.        Setiap kelompok bekerja berdasarkan kegiatan pokok CIRC, guru mengawasinya.
8.        Ketua kelompok melaporkan keberhasilan atau hambatan kelompoknya.
9.        Ketua kelompok harus dapat menetapkan bahawa setiap anggota telah memahami, dan dapat mengerjakan soal pemecahan masalah
10.    Memfasilitasi terjadinya interaksi antar peserta didik serta antara peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya.
11.    Melibatkan peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran.
12.    Guru membubarkan kelompok dan siswa kembali ke tempat duduknya.
13.    Guru mengulang secara klasikal tentang strategi penyelesaian soal  pemecahan masalah.
14.    Guru memberikan kuis 
·         Elaborasi
Dalam kegiatan elaborasi, guru:
1.        Memfasilitasi peserta didik melalui pemberian tugas, diskusi, dan lain-lain untuk memunculkan gagasan baru baik secara lisan maupun tertulis.
2.        Memfasilitasi peserta didik dalam pembelajaran kooperatif dan kolaboratif.
3.        Memfasilitasi peserta didik berkompetisi secara sehat untuk meningkatkan prestasi belajar.
4.        Memfasilitasi peserta didik membuat laporan eksplorasi yang dilakukan baik lisan maupun tertulis, secara individual maupun kelompok.
5.        Memfasilitasi peserta didik untuk menyajikan hasil kerja individual maupun kelompok.
6.        Peserta didik mengerjakan soal-soal dari “Cek Pemahaman“ dalam buku paket mengenai cara memfaktorkan bentuk aljabar yang mempunyai FPB, mengenai cara memfaktorkan bentuk aljabar selisih dua kuadrat, mengenai cara memfaktorkan bentuk  dan , mengenai cara memfaktorkan bentuk , jika, dan mengenai cara memfaktorkan bentuk  jika .
7.        Peserta didik diingatkan untuk mempelajari kembali materi mengenai faktorisasi suku aljabar, yaitu mengenai pengertian koefisien, variabel, dan konstanta, cara menyelesaikan operasi bentuk aljabar, operasi pecahan dalam bentuk aljabar. Serta cara menentukan faktor-faktor suku aljabar.
·         Konfirmasi
Dalam kegiatan konfirmasi, guru:
1.      Memberikan umpan balik positif dan penguatan dalam bentuk lisan, tulisan, isyarat, maupun hadiah terhadap keberhasilan peserta didik.
2.      Memberikan konfirmasi terhadap hasil eksplorasi dan elaborasi peserta didik melalui berbagai sumber.
3.      Memfasilitasi peserta didik melakukan refleksi untuk memperoleh pengalaman belajar yang telah dilakukan.
4.      Memfasilitasi peserta didik untuk memperoleh pengalaman yang bermakna dalam mencapai kompetensi dasar.
5.      Berfungsi sebagai narasumber dan fasilitator dalam menjawab pertanyaan peserta didik yang menghadapi kesulitan, dengan menggunakan bahasa yang baku dan benar.
6.      Membantu menyelesaikan masalah.
35 menit
3.
·         Kegiatan Akhir
Dalam kegiatan penutup, guru:
1.      Bersama-sama dengan peserta didik danatau sendiri membuat rangkuman/simpulan  pelajaran.
2.      Guru menutup pelajaran, berdo’a, dan mengucapkan salam.
2 menit

VIII.    Alat dan Sumber Belajar
Ø  Alat      :
-       White Board
-       Spidol
Ø  Sumber :  
-   Buku paket Matematika  Kelas VIII Semester satu.
-   Buku referensi lain.
IX.       Penilaian Hasil Belajar 
Indikator Pencapaian   Kompetensi
Penilaian
Teknik
Bentuk Instrumen
Instrumen/ Soal
  • Menentukan faktor suku aljabar
  • Menentukan pemfaktoran bentuk aljabar
Tes lisan



Tes tertulis
Daftar pertanyaan



Uraian

Pilihan ganda



Sebutkan variabel pada bentuk  berikut:
  1. 4x + 3
  2. 2p – 5
  3. (5a – 6) (4a+1)
Pemfaktoran dari 12 x²y – 8 xy² adalah …

Pemfaktoran dari 4x² – 9y² adalah …
a. ( 4x – y ) ( x + 9y )
c. ( 2x – 3y ) ( 2x + 3y )
b. ( 4x + y ) ( x – 9y )
d. ( 2x – 3y ) 2

Mengetahui,
Kepala SMP/MTs ………



 ( ………………………………….. )
NIP/NIK :…………..………

Lamongan, 22 Oktober 2013
Guru



( ……………………………………. )
NIP/NIK :…….……….



LATIHAN SOAL
Pilihlah salah satu jawaban yang paling tepat!
1.    Bentuk paling sederhana dari 5x + 3y – 2 – x + y + 2 adalah …
a.    4x + 3y        c. 4x + 3y – 4
b.    4x + 4y       d. 4x + 4y – 4
2.    Jumlah dari 2p + 3q – 4 dan p – 3q + 2 adalah ..
a.    2p – 2         c. 2p – 6
b.    3p – 2        d. 3p – 6
3.    Hasil pengurangan 6a2 – 12a dari 7a2 + 2a adalah …
a.   –a2 – 14a     c. a2 – 10a
b.    –a2 – 10a    d. a2 + 14a
4.    Hasil dari (p – 3q)(2p – 5q) adalah …
a.    2p2 – 11pq – 15q2
b.    2p2 + 11pq – 15q2
c.    2p2 – pq – 15q2
d.    2p2 + pq – 15q2
5.    (3x + 2y)(9x2 – 6xy + 4y2) = …
a.    27x3 + 8y3 .
b.    27x3 – 8y3 .
c.    27x3 + 24xy2 – 8y3 .
d.    27x3 – 36x2y – 8y3 .
6.    Hasil dari (4p – 5q)2 adalah …
a.    16p2 – 20pq + 25q2
b.    16p2 – 20pq – 25q2
c.    16p2 – 40pq + 25q2
d.    16p2 – 40pq – 25q2
7.    Hasil dari (–2a –  )2 adalah …
a.    4a2 – 4 + 1/a2     c. 4a2 + 4 +  1/a2
b.    4a2 –4a + 1/a2    d. 4a2 – 4a +  1/a2
8.    (2a + 3)2 – (a – 4)2 = …
a.    3a2 – 7    c. 3a2 + 4a + 25
b.    3a2 + 25    d. 3a2 + 20a – 7
9.    Pemfaktoran dari 6x2y – 8xy2 adalah …
a.    2xy(3x – 4xy)    c. 2xy(3x – 4y)
b.    2xy(3x – 6xy)    d. 2xy(3x – 6y)
10.  Pemfaktoran dari p(x + y) – q(x + y) adalah …
a.    (x + y)(p + q)    c. (x – y)(p + q)
b.    (x + y)(p – q)    d. (x – y)(p – q)








Tidak ada komentar:

Posting Komentar